Serpihan Hati Meretas Asa

Salam Kenal

اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Perkenalkan lah Saya Mochamad Luqman Ashari, lahir di Tuban, 25 Juli 1980, hmm…sudah 17 tahun lebih umur saya, pekerjaan sekarang menjadi dosen tetap di PPNS (Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya) mulai Desember 2009 di Prodi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tidak terasa sudah 9 tahun menjadi dosen, sebelumnya saya pernah menjadi Staf Teknik di CV Kumara Associates, pernah juga sebagai Site Engineer di PT. Pemuda Central Investindo pada Pembangunan Apartemen 35 Lantai Trillium Office and Residence di Surabaya. Alhamdulillah dari pernikahan sekarang dikaruniai 2 jagoan kecil Daffa dan Raffa, yang Insya Alloh Qurrota a’yun, semoga Alloh menjadikan Keberkahan umur mu Nak… , dan skarang kami tinggal di Surabaya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Ya Alloh semoga saya bisa mengamalkan Hadist di atas dan semoga berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Akhirat kelak dan diakui sebagai Ummatnya. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai manusia menuju “manusia terbaik”. Amiin YRA

Ijinkan saya mengcopy paste artikel di Kampungmuslim.org :

Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar radiallahu ‘anhu. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan sedemikian. Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.

“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.

“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.

“Bukankah Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah?” kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.

Kemudian Beliau bersuara,

“Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”

Pada kesempatan yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan “ikhwan”…

Rasulullah: “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.

“Malaikat,” jawab sahabat.

“Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.

Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”

“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”

“Mungkin kami,” celah seorang sahabat.

“Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.

“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

“Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah. “Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu,

Dan insya Allah umat akhir zaman itu adalah kita yang sedang bernafas hingga saat ini. Bagi kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan Baginda Rasulullah salllahu ‘alaihi wasallam.

Facebook Comments