Kekuatan kasih sayang

Oleh: Ir. Lukito Edi Nugroho, M.Sc.,Ph.D.

Fragmen #1
Dulu sewaktu saya masih kecil, ibu sering membelikan baju dan buku bacaan. Pada saat baju pemberian ibu saya coba, ternyata ukurannya pas benar, tidak kebesaran dan tidak kekecilan. Pada saat membuka bungkusan berisi buku bacaan, ternyata itu jenis buku yang saya senangi. Waktu saya tanya, kok ibu bisa membelikan baju yang ukurannya pas dan buku yang saya sukai, beliau hanya tersenyum. Pada saat itu, ada sesuatu yang unexplainabletetapi rasanya menenangkan sekali.

Fragmen #2
Sewaktu masih jadi Ketua Jurusan dulu, jika ada mahasiswa yang terkena masalah masa studi yang sudah habis, saya selalu berusaha untuk membantunya. Kalau saya melihat ada peluang yang realistis bagi si mahasiswa, seberapapun kecilnya, saya akan beri dia kesempatan. Kalau dipikir, secara sistem apa yang saya lakukan ini mungkin tidak baik, tapi saya bertindak dengan keyakinan bahwa seburuk apapun kinerja mahasiswa, dia selalu punya kesempatan untuk sukses di kemudian hari. Menutup kesempatan itu berarti menutup peluang kesuksesannya. Kalau ditanya lebih lanjut mengapa saya melakukan itu, saya biasanya tersenyum saja. Ketika si mahasiswa akhirnya lulus dan kemudian menemui saya sambil berterima kasih, ekspresinya juga mengandung sesuatu yang tidak hanya sekedar basa-basi. Benar-benarunforgettable…

Fragmen #3:
Beberapa kali saya berdialog dengan anak sulung tentang rencananya setelah lulus kuliah Psikologi nanti. Saya melihat dia senang sekali melakukan kajian-kajian dalam segitiga pendidikan-filsafat-studi keislaman. Terus terang dulu saya agak khawatir, mau kemana anak ini? Mengapa malah suka tentang sesuatu yang tidak banyak membantu dalam menyiapkan karir di masa depan?
Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol banyak dengan seorang teman dari Fakultas Filsafat. Beliau bercerita tentang berbagai discourse yang bisa ditempuh seseorang yang mempelajari ilmu filsafat. Diskusi ini mulai membuka pikiran saya. Dan beberapa hari yang lalu saya dan si mbarep berdiskusi panjang tentang hal ini. Dia menjelaskan panjang lebar tentang pandangan dan pemikirannya terkait dengan apa yang dia ditekuni dan menjadi passionnya.
Sehabis diskusi itu, saya katakan,”Bapak dukung pilihanmu, nduk. Bapak senang kalau suatu saat kamu bisa melahirkan pemikiran-pemikiran baru tentang hal-hal yang kamu kaji itu. Go get it…”. Tiba-tiba saja saya mengatakan itu, unbelieveable…Saya heran sendiri, mengapa saya berubah 180 derajad.
Dan ketika tadi pagi saya mengantarnya balik ke Jakarta, sesaat sebelum kami berpisah, pandangan matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Fragmen #4
Hari ini saya tidak ke kampus karena sakit, terlalu capek sepertinya. Sebenarnya banyak tugas yang harus diselesaikan, tapi karena tidak bisa ke kampus, jadilah komunikasinya lewat telpon dan whatsapp. Amazingly, saat saya meminta bantuan teman-teman untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut, semuanya bersedia membantu. Saya tidak melihat secara langsung ekspresi mereka, tetapi dari nada bicara dan pesan-pesan whatsapp, sama sekali tidak ada rasa enggan. Bahkan saat saya meminta tolong untuk hal-hal yang sangat detil, salah seorang mengatakan,”Sampun paaakk, itu sudah saya kerjakan, bapak istirahat saja…”
Hari ini sungguh membuat saya merasa speechless, karena sebelumnya saya merasa bahwa tidak masuk kantor hari ini berarti chaos bagi saya…

Apa yang sebenarnya menghubungkan fragmen-fragmen kisah yang saya tulis di atas?

Saya ingin menyampaikan bahwa ada sesuatu yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang kalau menurut nalar tidak mungkin atau tidak perlu dilakukan. Itulah kekuatan sayang, cinta, love, tresna, rahiim, atau apapun istilahnya. Tuhan meniupkan salah satu sifatnya ini kepada seluruh alam sehingga mampu menggerakkan mahluk-mahluk isinya, termasuk manusia-manusia di dalamnya, untuk melakukan sesuatu yangamazing. Melalui mekanisme kasih sayang, Tuhan menggerakkan mahluk-mahluknya untuk membangun alam, membuatnya menjadi lebih baik dan harmonis.

Kita bisa memperhatikan efeknya: ibu yang mampu mengetahui ukuran baju anaknya, dosen yang bisa menyelamatkan mahasiswa dari jurang DO, bapak yang bisa melihat sisi-sisi menarik dari cita-cita anaknya, atau teman-teman yang bahu-membahu membantu menyelesaikan tugas. Ada kesamaan dari semua contoh tersebut: hasil yang konstruktif. Kasih sayang menumbuhkan sesuatu yang konstruktif dan positif. Sesuatu yang membahagiakan. Bukankah memang ini adalah manifestasi dari sifat Tuhan? Kasih sayang dapat menyelesaikan problem, menata komponen-komponen yang berserakan, dan membangun konstruksi yang kuat dan indah.

Jadi mengapa kita tidak mencoba menangkap broadcastkasih sayang dari Tuhan? Swear, rasanya menenangkan sekali. Broadcast ini tidak pilih kasih, semua orang bisa menerima pancarannya. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk merendahkan, bahkan menghilangkan, ego. Menyelamlah ke dalam keheningan, karenabroadcast dari Tuhan tidak bekerja pada frekuensi yang penuh dengan hiruk pikuk, keributan, dan noise. Di dalam keheningan, pesan ilahiah akan terdengar lebih jelas.

Hari ini saya sedang sakit, batuk berkepanjangan dan badan meriang. Tapi somehow saya merasa sangat berbahagia dengan sakit ini karena saya bisa istirahat di rumah, bisa merendahkan ego, dan akhirnya bisa berbagi melalui catatan ini.

Tulisan ini dibuat dengan niat bismillahi rahmaani rahiim. Ada kandungan rahmaan dan rahiim di dalamnya. Semoga bisa beresonansi dengan frekuensi para pembaca dan menimbulkan kebahagiaan dalam hati. Aamiin…

https://www.facebook.com/lukito.nugroho

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *