Kampus Pencetak Peradaban Emas

  Indonesia mengalami bonus demografi saat ini, dimana angka kelahiran meningkat sehingga pada tahun 2040an Indonesia akan memiliki populasi manusia usia produktif yang besar. Namun, kesempatan ini dapat menjadi sebuah bencana sosial jika negara gagal dalam mencetak manusia yang berkualitas mulai hari ini. Bisa dibayangkan apabila pada tahun 2040 an itu bukan tenaga produktif yang dihasilkan negara, namun manusia-manusia tanpa polesan dan bentukan yang tidak dapat bersaing dengan manusia-manusia dari bangsa lain. Jutaaan pengangguran akan dihasilkan negeri ini jika tidak bisa memanfaatkan peluang ini dari sekarang. Jutaan manusia tidak berkualitas akan membanjiri negeri ini Jika negara tidak dapat memoles dan membentuk mereka dari sekarang.

          Namun, jika proses transformasi ini berhasil banyak lembaga konsultan Internasional meramalkan Indonesia akan menjadi kekuatan besar dunia. Indonesia Emas, sebuah slogan yang sekarang sering kita dengar, namun hanya akan menjadi isapan jempol belaka ketika tidak ada proses untuk meraihnya. Sekarang negara menyadari untuk mempersiapkan generasi ini dengan menyiapkan beragam skema program pengembangan dan pembentukan generasi Indonesia Emas. Seperti yang dilakukan Kemendikbud misalnya dengan banyak sekali mengglontorkan program beasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi, program sarja mendidik di daerah terluar dan tertinggal untuk memberikan akses pendidikan yang berkualitas, hingga perubahan kurikulum pendidikan besar-besaran yang digadang- gadang dapat memberikan pendidikan karakter yang baik pada generasi emas saat ini.

         Kampus, adalah gerbang terakhir untuk mencetak generasi terbaik bangsa ini. Kampus diibaratkan sebagai dunia peralihan antara kaum terdidik dan masyarakat. Kampus diharapkan menjadi simulator kehidupan bermasyarakat untuk calon calon manusia terdidik (sarjana) yang akan terjun di kehidupan bermasyarakat. Jadi sudah seharusnya kampus dikondisikan untuk mengarahkan kaum terdidik ini siap terjun, siap menjalani peran dan fungsinya nanti sebagai orang terdidik yang memberikan solusi di tengah-tengah masyarakat. Kampus harus menyadari, tempat ini harus menjadi pembentuk generasi yang berkualitas. Berkualitas disini tidak hanya ditakar dari kemampuan intelegensi saja, namun yang lebih penting apakah kampus dapat memproduksi manusia-manusia berkarakter yang dengan kemampuan intelegensi nya nanti dapat menerapkan dan menjadi solusi ditengah-tengah masyarakat. Lalu bagaimana caranya?

         Kampus telah memiliki design kurikulum pendidikan sesuai dengan bidang yang mereka tawarkan. Namun design ini hanya untuk pembentukan kemampuan skill, mungkin hanya sedikit sekali kampus yang memasukkan unsur pengembangan dan pembentukan sofskill dan kepribadian untuk mahasiswanya. Yang bisa dilakukan tanpa harus mengubah design kurikulum adalah memberikan media, memberikan kebebasan mahasiswa untuk berkembang diluar kelas. Memberi kesempatan mahasiswa untuk dapat mengembangkan diri, memberi kesempatan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan kegiatan manajerial, memberi kesempatan mahasiswa untuk sering terjun di masyarakat.

           Satu hal yang dirasakan berat oleh mahasiswa saat ini adalah beban pendidikan yang mereka dapatkan, yang mengarahkan mereka untuk study oriented. Mengarahkan mereka untuk menjadi kaum materialis dan pragmatis, sehingga menghilangkan identitas mereka sebagai kaum terdidik yang diharapkan mampu berkontribusi pada masyarakat, tidak berorientasi untuk mensejahterakan diri sendiri.

          Kampus harusnya memberikan ruang dan kebebasan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk berkreasi, tapi dengan catatan selama kebebasan itu terkontrol dan tidak merugikan orang lain. Peran pendidik (dosen) di kampus adalah memberikan pendampingan, selain memberikan pendampingan belajar. Mereka adalah anak-anak muda yang punya jiwa semangat tinggi, tapi akan berbahaya jika semangat ini tidak pada tempatnya. Anak-anak muda ini lebih senang diajak berdiskusi ketimbang diceramahi, Jadi akan sangat baik hasilnya jika dosen nantinya menyadari hal ini, mengajak mahasiswa untuk berdiskusi kemudian memberikan pandangan yang mengarahkan mereka jika memang ada hal yang perlu diluruskan, intinya adalah tidak banyak mengintervensi pemikiran-pemikiran mereka, pendidik hanya dapat mengarahkan dan mengingatkan sebagai peran controlling. Kampus adalah rumah peradaban, untuk mencetak generasi terbaik bangsa ini………

Rachmad Andri Atmoko, M.T

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *